Tepat pukul 02.40 dini hari, aku mulai menulis kembali. Rasanya sangat asing sekali dengan hal ini. Aku tidak tahu berapa lama tepatnya aku berhenti menulis, bukan merasa sudah sangat hebat sehingga semuanya hanya ku simpan di kepala. Namun, aku merasa sedikit malu. Selama ini aku merasa sangat hebat dalam menulis. Ya, tidak sehebat itu, tapi setidaknya bisa dalam merangkai kata melalui tulisan. Nyatanya aku hanyalah orang dungu yang sama sekali tidak bisa menulis dengan baik.
Semuanya sangat asing dan terasa baru. Aku rindu dengan keheningan malam yang menyisakan bunyi "tik" ketika waktu tengah malam mulai datang, hanya perasaan dan isi kepala yang runut menemani malam sunyi.
Tahun ini, aku berusaha kembali kepada diriku yang 14 tahun, hanya peduli membaca, terutama pada aplikasi Wattpad dan Webtoon (versi gratis membaca buku tanpa mengeluarkan uang sepeserpun) penuh dengan imajinasi dan dunia fiksi, berkhayal akan menemukan Geez dan Kent nya di dunia nyata. Bertambahnya usia, kegiatan membaca bukan jadi prioritas, aku tidak tahu mengapa diriku berubah, bahkan ada tahun dimana satu buku saja tidak habis ku baca, ironis sekali...
2026 punya kesan baik, sampai bulan ini sudah lima buku yang telah terbaca. Aku bangga dengan progres yang tidak pernah aku gapai sama sekali. Buku yang kubaca bukan lagi tentang cinta-cintaan remaja untuk menemukan pujaan hatinya si pangeran berkuda putih. Aku menemukan tempat baru, tentang berbagai sejarah yang dikemas dengan cerita fiksi, aku melihat dunia lain dari perspektif berbagai tokoh, tentang sejarah kelam bahkan tentang sejarah peradaban dunia, semuanya teramat menyenangkan, sejarah bukan lagi jadi rentetan tulisan membosankan ketika dibaca.
Aku akan bercerita tentang salah satu buku yang mengajarkan sekaligus memotivasi aku untuk kembali menulis "Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa" karya Zaky Yamani. Samiam hanyalah pedagang rempah. Kisahnya bermula dari buku hariannya yang ditemukan oleh seorang profesor. Hal menarik dari buku ini adalah bagaimana Zaky mengambil sudut pandang seorang tokoh melalui buku hariannya. Aku merasa tersindir ketika membaca buku ini, karena kegiatan menulis yang dilakukan Samiam tidak lagi aku sentuh keberadaannya. Niat Samiam hanya satu, agar ia tetap berpikir jernih di tengah kerumitan hidupnya. Hanya itu saja alasannya.
Aku menyadari apa yang dikatakan Samiam itu, sama seperti yang aku rasakan dulu. Maka dari itu, aku memulai lagi untuk menulis, bukan karena terpaksa, tetapi menulis adalah bagian dari diriku. Aku akan kembali mencari diriku yang telah lama hilang, perlahan tanpa paksaan. Aku akan berkisah kepada alam semesta, seperti layaknya diriku dulu. Aku sadar ingatan takkan bisa menampung semua pengalaman hidup, hanya tulisan yang dapat mengabadikannya dan tetap kekal selamanya.
p.s. Lagu yang mewakili perasaan saat menulis tulisan ini
Komentar
Posting Komentar